Perasaan adalah makhluk rumit yang berada dalam jiwa yang kelaparan oleh penantian. Mungkin kita tidak memerlukan perasaan. Dari perasaan yang terhubung ke perasaan lainnya jiwa-jiwa merasakan sakit, tersesat. Terperosok kedalam lantunan fatamorgana. Seakan perasaan berkata kepada perasaan yang lainnya,” Ahirnya aku menemukanmu wahai cahaya, keindahan yang sejati.” Namun ternyata, perasaan menyulutkan api-api keinginan, api-api ke-egoan. Hingga api tumbuh besar dan besar. Ahirnya ego bertahta, menyingkirkan kepasrahan dalam lubuk jiwa.
Senin, 16 Maret 2015
Jumat, 06 Maret 2015
Mulai nge-Blog lagi
Berkat seorang teman, nafsuku naik, aku mupeng ngeblog lagi. Sepertinya seru merekam jejak kehidupan, menulis, lalu membaginya. Semoga saja bisa istiqomah. Minimal satu minggu satu tulisan lah ya. Salam hangat, sukses selalu.
Jumat, 19 September 2014
Menakar Urgensi Realisasi PLTN
Baru-baru ini media elektronik mulai mengangkat diskursus energi sebagai respon acara diskusi “Mengenal Lebih Dekat Iptek Nuklir” di Bogor di Favehotel, Bogor, Sabtu 13 September 2014. Dalam diskusi tersebut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyinggung rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan di masa pemerintahan Jokowi. Ia mempertanyakan ketidak jelasan sikap pemerintah terkait kebijakan mempertahankan subsidi BBM sampai saat ini.

Padahal alokasi subsidi BBM yang sekitar Rp300 triliun itu dapat digunakan untuk membangun enam PLTN komersial. Dari pernyataan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto tersebut

Padahal alokasi subsidi BBM yang sekitar Rp300 triliun itu dapat digunakan untuk membangun enam PLTN komersial. Dari pernyataan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto tersebut
Rabu, 15 Januari 2014
Cerpen Cinta
Ada suatu kala dimana cerpen tidak dikarang seperti biasa.
Jauh dari dugaan ketika filsafat telah menyentuh sastra. Ketika bahan obrolan
berupa logika jahat yang sering berdusta kepada perasaannya sendiri.
Suasana hening. Rusunawa yang dihuni para peserta
pesantrenisasi berdiri megah nan angkuh. Wajar, waktu menunjukkan pukul 24.00
WIB. Para penghuni terlelap setelah kecapekkan mencari ilmu keagamaan dan
sosial. Beruntung mereka mencarinya, bukan menuntutnya. Karena salah apa ilmu,
sehingga tega orang menuntutnya?
Label:
budaya,
cerpen,
fiksi,
nasehat,
opini,
pemikiran,
pribadi,
sastra/puisi,
suara hati
Jumat, 03 Januari 2014
Menyentuh Makna Makrab
Belum lama mahasiswa-mahasiswi baru telah menjalani Makrab (Malam Keakraban) yang digelar oleh beberapa himpunan mahasiswa masing-masing prodi di Universitas. Namanya juga malam keakraban, maka kegiatan yang direfleksikan dari acara itu selayaknya adalah suatu malam yang di dalamnya terdapat keakraban.
Amat kontradiksi, membaca Koran Sindo (17/10/2013), hanya gara-gara beberapa mahasiswa baru (maba) tak ikut Makrab di salah satu Universitas di Jogja, sejumlah mahasiswa senior mengeroyok maba. Sungguh disayang-kan. Ketika keakraban yang dicari terselip ego yang membuat amarah termanifestasi dalam kriminalitas. Maka amat penting untuk menjaga visi objektif dari Makrab, yakni terciptanya keakraban. Tentu visi ini tak mungkin terwujud tanpa menjalankan misi yang sinergis.
Amat kontradiksi, membaca Koran Sindo (17/10/2013), hanya gara-gara beberapa mahasiswa baru (maba) tak ikut Makrab di salah satu Universitas di Jogja, sejumlah mahasiswa senior mengeroyok maba. Sungguh disayang-kan. Ketika keakraban yang dicari terselip ego yang membuat amarah termanifestasi dalam kriminalitas. Maka amat penting untuk menjaga visi objektif dari Makrab, yakni terciptanya keakraban. Tentu visi ini tak mungkin terwujud tanpa menjalankan misi yang sinergis.
Jumat, 20 September 2013
Menguak Topeng-Topeng
Ada dua jenis orang saleh: Yang ingin mengumumkan kesalehannya pd semua orang; Ada yg merasa cukup Tuhan saja yg tahu. ~Ulil Abshor Abdalla
Ada dialektika yang menghubungkan baik dan buruk. Meski ada limit yang memisahkan dua term tersebut. Meski jika dihubungkan dengan terminologi benar dan salah, baik belum tentu benar, benar belum tentu baik. Bahkan keburukan yang tidak terus lebih baik dari kebaikan yang tidak terus. Demikian juga kesalahan yang tidak terus lebih benar dari
Ada dialektika yang menghubungkan baik dan buruk. Meski ada limit yang memisahkan dua term tersebut. Meski jika dihubungkan dengan terminologi benar dan salah, baik belum tentu benar, benar belum tentu baik. Bahkan keburukan yang tidak terus lebih baik dari kebaikan yang tidak terus. Demikian juga kesalahan yang tidak terus lebih benar dari
Langganan:
Postingan (Atom)



