Jumat, 03 Januari 2014

Menyentuh Makna Makrab

Belum lama mahasiswa-mahasiswi baru telah menjalani Makrab (Malam Keakraban) yang digelar oleh beberapa himpunan mahasiswa masing-masing prodi di Universitas. Namanya juga malam keakraban, maka kegiatan yang direfleksikan dari acara itu selayaknya adalah suatu malam yang di dalamnya terdapat keakraban.


Amat kontradiksi, membaca Koran Sindo (17/10/2013), hanya gara-gara beberapa mahasiswa baru (maba) tak ikut Makrab di salah satu Universitas di Jogja, sejumlah mahasiswa senior mengeroyok maba. Sungguh disayang-kan. Ketika keakraban yang dicari terselip ego yang membuat amarah termanifestasi dalam kriminalitas. Maka amat penting untuk menjaga visi objektif dari Makrab, yakni terciptanya keakraban. Tentu visi ini tak mungkin terwujud tanpa menjalankan misi yang sinergis.

Misi secara umum adalah tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk me-lakukannya demi agama, ideologi, patriotisme. Tentu terkait misi dalam Makrab, pihak panitia dan peserta selayaknya dapat menjaga sinergisme, agar tidak terjadi kejadian yang keluar dari koridor visi objektif maupun visi subjektif dari himpunan. Mengenai visi subjektif himpunan, tentu berbeda himpunan satu dengan himpunan yang lain, entah itu perbedaan ideologi maupun perbedaan akademik. Namun terkait visi objektif tentu dapat dikembalikan dari makna secara epistimologi dari Makrab tersebut, apa dibalik diadakannya Makrab. Apakah pengenalan, keakraban, kebersamaan? Ataukah sekedar kepentingan satu pihak?  

Ada Niat Sebelum Berbuat

 Inna a'malu binniyat. Sungguh perbuatan itu tergantung niatnya. Niat A kepada B belum tentu sama dengan niat B kepada A. Kadang pihak penyelenggara jarang bertanya pada peserta, seperti,”makrab yang seperti apa yang anda inginkan?” Ya memang keputusan konsep acara itu otoritas penyelenggara makrab, namun bukankah tidak ada salahnya sesekali me-nyatukan keinginan kedua belah pihak? Meski nantinya banyak kepala yang berbeda, namun bukankah berbeda bukan berarti harus mengambil sikap membeda-bedakan bukan? Di sisi lain pihak peserta seperti halnya adik yang diasuh sang kakak. Tentu kemauan sang adik belum tentu dipenuhi oleh sang kakak. Bisa jadi sang kakak mengambil keputusan lain kepada sang adik dengan harapan, ”ini yang terbaik buat adik.” Karena kakak yang lebih dewasa tahu mana yang lebih baik untuk adiknya. Ada kalanya kakak bersikap tegas agar sang adik tahu makna dewasa. Ada kalanya kakak bersikap lemah lembut agar sang adik tahu makna kasih sayang. Namun tentu saja ketika sang adik dan sang kakak memiliki kesatuan keinginan timbullah keakraban.  

Katakan Tidak Kepada Diskriminasi

Kekakraban muncul dari kesatuan. Kesatuan terjalin atas nama keadilan. Keadilan terwujud jika diskriminasi ditiadakan. Realitanya diskriminasi selalu terjadi di mana saja, sadar tanpa sadar, lingkup kecil, nasional, bahkan internasional. Begitu beratnya para pejuang hak asasi manusia mengalahkan satu kata, diskriminasi.

Terkait diskriminasi, ada nilai historis berefleksi dari tokoh yang belum lama ini wafat. Adalah Nelson Mandela yang berhasil menumbangkan rezim apartheid di Afrika Selatan, yang selanjutnya mengantarkan negerinya ke dalam demokrasi. Inilah salah satu gambaran betapa pentingnya suatu komunitas untuk menghilang-kan diskriminasi dalam suatu komunitas itu sendiri agar terciptanya sistem kebersamaan yang nyaman. Kenyamanan tentu saja bukan untuk si A atau Si B, bukan untuk panitia atau peserta, tetapi untuk semuanya.

Tidak usah jauh-jauh sampai Afrika, dapat kita temukan sosok almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur berjuang sedemikian hebatnya melawan diskriminasi di lingkup nasional maupun internasional. Beliau hadir menyuarakan keadilan. Meski banyak cercaan, namun buah perjuangan itu ahirnya dapat dipetik juga. Esensi kesatuan, berbeda beda tapi tetap satu.

Makrab yang diadakan oleh pihak panitia dan diikuti peserta yang dijalin dalam suatu acara boleh jadi secara kasat mata berjalan lancar, mulus, dan meriah. Tapi bisa jadi internal panitia atau panitia dengan peserta tak sefaham. Tak sepengertian pemikiran. Tak sependapat. Tak seanutan. Si A menganut ini dan si B menganut itu, sementara si C bisa jadi suatu unikum tertentu dari kepribadiannya berdasarkan kodrat kelahir-an dan mungkin latar belakang kebudayaannya. Kesemuanya kemudian saling bisa ber-musyawarah, dan hasil musyawarah itu sebagian bisa diputuskan menjadi suatu kesepakatan tunggal, tetapi sebagian yang lain mungkin harus dibiarkan berbeda-beda, wajar.

Antara satu dengan yang lain juga bisa saling menilai, saling mengkritik, bahkan saling menghakimi: tetapi yang terpenting harus diingat ialah tindak penghakiman itu selayaknyalah dilandasi oleh keinsyafan akan keterbatasan dan relativitas kemampuan kemakhlukan. Se-lebihnya keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar bahwa Tuhanlah yang Maha Kuasa dan Maha Mampu nan Sempurna untuk menyelenggarakan penilaian yang sehakiki-hakikinya. Yang terpenting adalah menundukkan keegoan untuk berprasangka negatif kepada yang lain dan menumbuhkan semangat bersatu dalam kebersamaan.

*Terbit di buletin HIPOTESIS LPM LINIER FMIPA UII edisi II| tahun I| Desember 2013

@SemarTobat

2 komentar:

  1. woooi mas bro fotomu kok keren jeh koyok mbah2 ndek kursi goyang. wk wk wk.
    miss X

    BalasHapus
  2. pake miss x segala hahaha..sok misterius ah

    BalasHapus