Kamis, 04 Juli 2013

Kembali Kepada Hakekat


Alam adalah pesan yang disampaikan untuk manusia. Karena manusia sendiri hakekatnya sebagai khalifah. Mempunyai hak intervensi untuk mengatur alam, meski keputusan tetaplah kuasa penuh Sang Pencipta alam dan manusia itu sendiri. Alam sebagai pesan mengantarkan manusia ke jalan transcendental. Alam adalah manifestasi wujud, demikian juga manusia. Manusia yang mengerti alam akan tahu bagaimana mengelolanya. Sehingga dapat sinkretis antara keduanya. Itulah keseimbangan (taichi). Sebelum mengatur tentu harus ada pemahaman. Pemahaman yang paling mendasar adalah tentang asal usul.
Istilah jawanya Sangkan Paran.



Usaha manusia untuk menemukan asal usul

peristiwa di PTAPB BATAN


BATAN sebuah nama sakral untuk litbang nasional di bidang nuklir. Hari ini saya belajar banyak darimu. Disiplin dan pantang menyerah. System yang ketat dan multidisiplin. Perangkat peneliti yang teliti yang menjunjung tinggi profesionalitas. Di sudut yang lain saya masih heran, harusnya PLTN dapat hadir di Negara ini mengingat kinerjamu yang tinggi.
Siang kian membara. Motor lusuh pinjaman bapak tercinta mulai kukayuh slahnya. Ngreng..ngrengg. Di bawah terik sinar yang mulai membakar tanganku. Berteman satu batang 76 kretek yang lincah dianatara jari-jariku. Dengan kecepatan bernada tenang kumulai menuju ketempatmu, BATAN.
Tas hitam itu menyimpan dokumen penting untuk menunjang studiku di UII. Laporan PKL yang belum genap di ACC oleh perangkat pejabat di BATAN. “Permisi bu.” Ucapku pada wanita paruh baya berbaju putih bercelana biru. Meski wanita, ia nampak tegas dan berwibawa, pun santun.
Setelah melempar senyumnya ia menjawab sapaanku,”Ada yang bisa dibantu mas?”
“Mau bertemu Bu Endang.”
Tak lama ia menyiapkan surat keterangan (disediaka bagi tamu berisi data detail penamu dan yang ditemui), khas BATAN banget. Semua orang asing yang masuk terdata, aman. Meski agak ribet jika tiap hari begitu terus menerus.
Bangunan tinggi menjulang. Reaktor kartini.

Kamis, 27 Juni 2013

Suwung

Malam ini sunyi telah dibuat manusia. Tidak ada basa-basi dalam binar matamu. Menembus dalam hening yang tercipta tanpa dasar. Hidup terlalu kelabu tanpa batas-batas cintaNya. Saat roda berputar hidup pun berjalan di jalan terjal.

Jumat, 24 Mei 2013

Ketika Malaikat Pergi dan Nafsu Buruk Mendominasi



Duduk termenung mendengarkan kata hati. Sejenak bayangmu menghiasi sore ini. Baru beberapa hari ketika aku melihatmu tersenyum ceria. Raut wajah yang natural terhias dalam eloknya pesonamu yang rumit. Saat engkau berlenggak-lenggok berjalan girang, tiba-tiba menyapaku. “Mas Adiiin!” Suaramu terlihat merdu meski cempreng dan fals. Aku terhibur dalam denyut yang nyaman. Candu menggelegak membuka urat nadi untuk menyalurkan darah dengan cepat.

Sekarang ini aku hanya bisa merasakan kehadiranmu dalam imajinalku yang sulit. Terbatas pada angan yang kias. Kerinduan seorang perindu untuk merindukan sosok yang dirindu. Kepasrahan yang tiada pasrah untuk memaksakan pasrah atas kepasrahan yang berpasrah. Dug..dug..dug bunyi jantung pertanda imajinalku adalah realitas. Ya, saya

Negeri Dongeng (sebuah cerpen)



Sebagian orang  sering meremehkan cerita dongeng. Kadang dianggap kekanak-kanakan. Mereka lebih bangga dengan novel-novel tebal. Perempuan lebih suka novel dengan dinamika romantika. Pria lebih suka novel dengan nuansa adventure dan logika.
Sedangkan dongeng mereka tempatkan dalam dunia anak kecil yang fatamorgana. Itu sebagai paradigma. Meski, realitasnya tidak selalu. Masih ada yang suka dongeng. Masih ada yang selalu rindu fantasi, imajinasi. Walau kadang tidak masuk akal, dongeng adalah keabadian akal. Ketika akal melayang, ia bebas, “aku berfikir, maka aku bebas.” Maka jangan anggab ini serius. Tidak ada yang serius dalam otakku. Bukankah dunia hanya sendau gurau?

Andaikata dunia saat ini seperti yang kita lihat,banyak gedung gemerlap di malam hari, sepeda motor dan mobil berlalu lalang. Ada pesawat terbang, helikopter, kapal, kereta api, dan perangkat modern lainnya. Tahukah bahwa dahulu sekitar 1000 abad lalu ada dunia yang tak kalah canggih seperti sekarang?

Minggu, 07 April 2013

Hijrah di Era Kosmopolitan

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 103)
 
Dalam mengarungi kenyataan hidup manusia dihadapi dengan dua pilihan. Kanan atau kiri. Baik atau buruk. Benar atau salah. Cinta atau benci. Maaf atau dendam. Berkah atau murka. Suci atau kotor. Dalam pengejawantahannya tak mungkin manusia tiba-tiba langsung kanan, langsung benar, langsung baik. Tidak ada manusia yang ujug-ujug langsung menjadi ulama, ustadz, intelektual, meski ulama, ustadz, intelektual bukan parameter masuk surga. Perlu proses.

Proses menuju, keadaan manusia mengarungi tujuan lebih baik,