Kamis, 29 Januari 2009

Kasidah Gelandangan


Tangisan malam di ujung jalan
Bersemayam duatetes nyawa di pelataran
Angin meliuk kencang membawa aroma bangkai bernyawa
Malam terlarut oleh senandung salah satu putra bangsa
Mengais ilmu di antara asap tak tersentuh rasa kasihan
Berhiaskan jubah coklat tebal yang menghangatkan
“Aku ingin jadi pemimpin negara Pak.”
“Kita berselimutkan keterbatasan,apakah kelebihanmu anakku?”
“Aku sering mengais ilmu di harta sisa Pak.”
“Yang dibutuhkan sekarang adalah bukti pada ekor namamu nak.
Berdendanglah dengan semua ini,agar engkau manikmati alunannya!”
“Aku mulai tahu hukum alam di negara ini Pak.”
“Bagus anakku kini alunannya engkau dapatkan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar